Kamis, 10 Januari 2013

Tugas Pemuda dan Sosialisasi


Pemuda dan Sosialisasi



Masa yang kita alami sekarang sering kita dengar dengan sebutan masa muda. Masa muda adalah masa transisi dimana kita beradaptasi dari masa kanak-kanak ke masa pendewasaan.  pemuda adalah generasi yang akan melanjutkan visi dan misi negara indonesia, bisa dikataka juga pemuda merupakan harta negara yang seharusnya aspirasinya ditampung dan didengarkan.Pemuda adalah golongan manusia manusia muda yang masih memerlukan pembinaan dan pengembangan kearah yang lebih baik, agar dapat melanjutkan dan mengisi pembangunan yang kini telah berlangsung, pemuda di Indonesia dewasa ini sangat beraneka ragam, terutama bila dikaitkan dengan kesempatan pendidikan.
Proses kehidupan yang dialami oleh para pemuda Indonesia tiap hari baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat membawa pengauh yang besar pula dalam membina sikap untuk dapat hidup di masyarakat. Proses demikian itu bisa disebut dengan istilah sosialisasi, proses sosialisasi itu berlangsung sejak anak ada di dunia dan terus akan berproses hingga mencapai titik kulminasi.
Keragaman pemuda Indonesia dilihat dari kesempatan pendidikannya serta dihubungkan dengan keragaman penduduk dalam suatu wilayah, maka proses sosialisasi yang dialami oleh para pemuda sangat rumit. Dengan perkembangan individu pemuda itu sendiri dan dalam rangka melepaskan diri dari ketergantungan pada orang tua, maka pengalaman-pengalaman yang dialaminya kadang membingungkan dirinya sendiri.

Pemuda Indonesia
Pemuda dalam pengertian adalah manusia-manusia muda, akan tetapi di Indonesia ini sehubungan dengan adanya program pembinaan generasi muda pengertian pemuda diperinci dan tersurat dengan pasti. Ditinjau dari kelompok umur :
Masa bayi                    : 0 – 1 tahun
Masa anak                   : 1 – 12 tahun
Masa Puber                 : 12 – 15 tahun
Masa Pemuda              : 15 – 21 tahun
Masa dewasa               : 21 tahun keatas
Dilihat dari segi budaya atau fungsionalya maka dikenal istilah anak, remaja dan dewasa, dengan perincian sebagia berikut :
Golongan anak            : 0 – 12 tahun
Golongan remaja         : 13 – 18 tahun
Golongan dewasa       : 18 (21) tahun keatas
Pengertian pemuda berdasarkan umur dan lembaga serta ruang lingkup tempat pemuda berada terdiri atas 3 katagori yaitu :
Siswa, usia antara 6 – 18 tahun, masih duduk di bangku sekolah
Mahasiswa usia antara 18 – 25 tahun beradi di perguruan tinggi dan akademi
Pemuda di luar lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi yaitu mereka yang berusia 15 – 30 tahun keatas.
Peran itu dibedakan menjadi dua yaitu
Didasarkan atas usaha pemuda untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan lingkungan.
Didasarkan atas usaha menolak menyesuaikan diri dengan  lingkungan. Peran pemuda jenis ini dapat dirinci dalam tiga sikap, yaitu : pertama jenis pemuda “pembangkit”, kedua pemuda pdelinkeun atau pemuda nakal, ketiga, pemuda radikal.

Sosialisasi Pemuda
Melalui proses sosialisasi, seorang pemuda akna terwarnai cara berpikir dan kebiasaan-kebiasaan hidupnya. Proses sosialisasi banyak ditentukan oleh susunan kebudayaan dan lingkungan sosial yang bersangkutan. Oleh karena itu proses sosialisasi melahirkan kedirian dan kepribadian seseorang. Kedirian (self) sebagai suatu prosuk sosialisasi, merupakan kesadaran terhadap diri sendri dan memandang adanya pribadi orang lain di luar dirinya. Asal mula timbulnya kedirian :
Dalam proses sosialisasi mendapat bayangan dirinya, yaitu setelah memperhatikan cara orang lain memandang dan memperlakukan dirinya.
Dalam proses sosialisasi juga membentuk kedirian yang ideal. Orang bersangkutan mengetahui dengan pasti apa-apa yang harus ia lakukan agar memperoleh penghargaan dari orang lain.

Internalisasi, Belajar dan Spesialisasi
Ketiga kata atau istilah tersebut pada dasarnya memiliki pengertian yang hampir sama. Proses berlangsungnya sama yaitu melalui interaksi sosial. istilah internasilasasi lebih ditekankan pada norma-nroma individu yang menginternasilasikan norma-norma tersebut. Istilah belajar ditekankan pada perubahan tingkah laku, yang semula tidak dimiliki sekarang telah dimiliki oleh seorang individu. istilah spesialisasi ditekankan pada kekhususan yagn telah dimiliki oleh seorang individu, kekhususan timbul melalui proses yang agak panjang dan lama.
Namun ada hal yang sangat disayangkan. Perjuangan pemuda itu bagai habis manis sepah dibuang. Banyak para atlet kita dilupakan ketika sudah  menurun performanya. Banyak juga pemuda kita yang ahli di bidang akademik diambil oleh negeri asing akibat minimnya penghargaan dari negara kita untuk mereka.
Karena itu tidak heranlah negara kita yang kaya kekurangan SDM yang bermutu. Seharusnya pemerintah memberikan lebih agar para pemuda-pemuda semakin bersemangat mengejar prestasi , toh ini juga baik untuk negara kita sendiri.



Referensi :
Harwantiyoko dan Katuuk, Neltje F. (1997). MKDU Ilmu Sosial Dasar. Jakarta : Gunadarma



Tulisan Pemuda dan Sosialisasi


Pemuda dan Sosialisasi



Pemuda adalah suatu generasi yang dipundaknya terbebani bermacam-macam harapan, terutama dari generasi lainnya. Hal ini dapat dimengerti karena pemuda diharapkan sebagai generasi penerus, generasi yang akan melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya, generasi yang harus mengisi dan melangsungkan estafet pembangunan secara terus menerus. Pemuda identik dengan sebagai sosok individu yang berusia produktif dan mempunyai karakter khas yang spesifik. Kelemahan dari seorang pemuda adalah kontrol diri dalam arti emosional. Kelebihan seorang pemuda adalah mau menghadapi perubahan. Perubahan yang menjadi suatu sebuah keberhasilan terhadap sebuah gerakan pemuda. Keberhasilan yang akan membuat hidup lebih baik. Pemuda merupakan sosok yang menjadi harapan-harapan bangsa.
Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Berdasarkan jenisnya, sosialisasi dibagi menjadi dua: sosialisasi primer (dalam keluarga) dan sosialisasi sekunder (dalam masyarakat). Proses sosialisasi dapat diartikan sebagai proses belajar seseorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati norma-norma serta nilai-nilai masyarakat tempat ia menjadi anggota sehingga terjadi pembentukan sikap untuk berprilaku sesuai dengan tuntunan atau perilaku masyarakatnya.
Sosialisasi dimulai dari keluarga kemudian ke tetangga, teman sebaya, sekolah, masyarakat terbatas, komunitas kerja dan masyarakat luas. Proses sosialisasi yang baik adalah dirumah / di keluarga, karena jika sosialisasi di keluarga itu baik maka akan membentuk pribadi yang baik juga. Tetapi, jika proses sosialisasi seorang anak di rumah tidak baik akan membentuk pribadi anak yang tidak baik juga.
Melalui proses sosialisasi, seorang pemuda akna terwarnai cara berpikir dan kebiasaan-kebiasaan hidupnya. Dengan demikian, tingkah laku seseorang akan dapat diramalkan.
Dengan proses sosialisasi, seseorang menajdi tahu bagaimana ia mesti bertingkah laku di tengah-tengah masyarakat dan lingkungan budayanya. Dari keadaan tidak atau belum tersosialisasi, menjadi manusia masyarakat dan beradab. Sosialisasi ini sangat penting bagi pemuda, sebab tanpa adanya sosialisasi pemuda akan terjebak dalam kehidupan yang penuh lika-liku dan retorika yang tidak jelas. Sosialisasi ini dapat membentuk karakter yang kuat bagi pemuda, karakter yang kuat pemuda dapat mencegah dari sifat-sifat yang buruk. Jadi, peran orang tua tidak luput dalam melakukan sosialisasi pemuda ini. Orang tua adalah mentor dalam kehidupan pemuda kedepanya, jika tidak ada peran aktif dari orang tua, maka siap-siaplan akan menjadi buruk citra pemuda-pemuda penerus perjuangan bangsa ini.
Ada baiknya kita sebagai pemuda lebih mengutamakan suatu sifat yang baik, yang pernah diajarkan oleh orang tua kita khususnya dan juga guru-guru atau pengajar di sekolah dahulu. Kebaikan sosialisasi ini bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk kita sendiri yang sangat membutuhkan mentor dalam kehidupan ini. Pemuda dalam hal sosialisasi ini merupakan ujung tombak pembangunan dimasa sekarang dan juga yang akan datang.
Dapat dikatakan bahwa pemuda merupakan generasi penerus bangsa dalam membangun negara. Mahasiswa dapat dikategorikan sebagai pemuda. Dari pemuda ini ditemukan pemikiran – pemikiran baru dan ide  – ide baru yang dapat membuat perubahan pada pola fikir masyarakat maupun pada pebangunan. pemuda yang mempunyai jiwa membara bagai api yang berkobar dan selalu mempunyai ide-ide yang cemerlang untuk membuat sesuatu yang baru akan lebih baiknya apabila didukung dengan sosialisasi yang memadai. Ide pemuda apabila dituangkan dan dilaksanakan akan membuat suatu bangsa menjadi lebih maju. Tetapi zaman sekarang banyak pemuda yang mempunyai ide-ide bagus masih binggung akan dibawa kemana dan akan digunakan untuk apa ide tersebut. Itu semua dikarenakan kurangnya sosialisasi untuk pemuda. Pemuda masih banyak bimbingan dari orang yang lebih berpengalaman untuk bagaimana memperjelas langkah pemuda tesebut yang mempunyai ide-ide cemerlang. Kalau sudah demikian tinggal pemuda tersebut, ide apa yang akan dituangkan dan dipublikasikan. Dan pemuda tersebut akan berfikiran ide apa yang akan dituangkan dan dipublikasikan dan dengan langkah apa pemuda tersebut mempublikasikannya.Contohnya mahasiswa yang melakukan demonstrasi pada kebijakan yang di ambil pemerintahan sehingga timbul perubahan kebijakan. Dapat kita lihat bahwa demonstrasi merupakan cara pemuda dalam menyampaikan pemikiran – pemikiran atau ide – ide kepada pemerintah.
Dari contoh diatas dapat di simpul kan bahwa demo merupakan proses sosialisasi, proses sosialisasi yang dialami oleh para pemuda sangat rumit. Sehubungan dengan perkembangan individu pemuda itu sendiri dan dalam rangka melepaskan diri dari ketergantungan pada orang tua, maka pengalaman-pengalaman yang dialami kadang  membingungkan dirinya sendiri. Melalui proses sosialisasi, seorang pemuda akna terwarnai cara berpikir dan kebiasaan-kebiasaan hidupnya. Dengan demikian, tingkah laku seseorang akan dapat diramalkan. Proses sosialisasi banyak ditentukan oleh susunan kebudayaan dan lingkungan sosial yang bersangkutan. Oleh karena itu proses sosialisasi melahirkan kepribadian seseorang tergatung dari segi susunan kebudayaan dan lingkungan sosial.
Contoh lain adalah pemuda lebih dominan dalam penguasaan teknologi di banding golongan tua, dimana sekarang ini teknologi di pakai setiap perusahaan untuk mempermudah dalam menjalankan usahanya. Dari sini kita bisa lihat bahwa pemuda membawa perubahanyang positif, hal ini disebabkan bahwa pemuda lebih mudah bersosialisai dan beradaptasi dengan hal – hal baru.
Kesimpulannya adalah pemuda sangat berpengaruh pada perubahan pola fikir dalam kehidupan bermasyarakat. Karena pemuda sangat mudah bersosialisasi dah menghasilkan hal – hal yang positif maupun negatif. Semua ini tergantung pada susunan kebudayaan dan lingkungan sosial yang dihadapi oleh seorang pemuda.




Referensi :
Harwantiyoko dan Katuuk, Neltje F. (1997). MKDU Ilmu Sosial Dasar. Jakarta : Gunadarma



Tulisan Individu, Keluarga dan Masyarakat


Individu, Keluarga dan Masyarakat



·      Individu
Dapat dikatakan bahwa individu adalah seorang manusia yang hanya memiliki peranan dalam lingkungan sosialnya, yang juga mempunyai kepribadian kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya. Individu dapat terbentuk sejak dini, mulai kita lahir kedunia ini yang memiliki latar belakang orang tua berbeda dipersatukan dalam keluarga maka individu atau sifat pribadi dapat terbentuk dengan sendirinya.
·      Keluarga
Setiap makhluk hidup pastilah memiliki sebuah keluarga. Keluarga adalah masyarakat terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat. Keluarga juga memiliki arti sebagai harta yang paling berharga, jadi sayangilah keluaraga yang kita miliki sekarang. Keluarga juga bisa menjadi tempat untuk berkeluh kesah, curhat, dan lain-lain. Sebagai bagian dari keluarga harusnya saling menjaga kerukunan dan ketentraman satu dengan yang lain, dari keluarga ini lah akan membentuk keluarga-keluarga baru lainnya. Mulai dari keluarga inilah kita dapat membentuk suatu karakter, sebagaimana dijelaskan pada point diatas, keluarga mempunyai peran penting terhadap kehidupan sosial dan masyarakat.
·      Masyarakat
Masyarakat terbentuk dari perputaran kehidupan yang sedang dijalani, mulai dari individu yang berkembang menjadi keluarga dan kemudian masyarakat. Kumpulan dari dari point-point diatas tersebut dapat membentuk suatu tatanan kehidupan masyarakat, awal pembentukanya dari sifat pribadi sebagai makhluk sosial dan membutuhkan orang lain dalam menjalani kehidupan.  Masyarakat adalah suatu istilah yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat kota, masyarakat desa, masyarakat ilmiah, dan lain-lain Dari sini lah sifat sosial akan membentuk keluarga yang akan memiliki sebuah karakter baru untuk menjadi masyarakat.

Dapat disimpulkan bahwa antara invidu, keluarga dan masyarakat saling berhubungan, mulai dari suatu individu, menjadi keluarga, kemudian bermasyarakat. Tidak akan ada keluarga, bila tidak ada indidu. Tidak akan ada pula suatu masyarakat bila tidak ada individunya. Individu, keluarga, dan masyarakat merupakan suatu aspek yang tidak dapat dipisahkan dan saling berhubungan. Karena mereka saling berhubungan, maka keluarga dan masyarakat tidak hanya memerlukan individu, tapi individu juga memerlukan keluarga dan masyarakat. Sebagai seorang individu, pasti saya dan anda semua memerlukan keluarga untuk mengekspresikan kesosialan. Pada masyarakat, individu sangat berperan penting untuk bersosialisasi dengan yang lain.
Keluarga adalah lingkungan pertama kali yang dijumpai, karena pada saat lahir saya dan anda semua berada pada sebuah keluarga, Kemudian dari keluarga tersebut, saya dan anda semua dibentuk menjadi sebuah pribadi yang baru. Lingkungan keluarga adalah lingkungan dimana banyak pengaruh besar pada keluarga. Akan terbentuk menjadi pribadi yang baik, bila lingkungan keluarganya mendukung untuk membentuk suatu individu dengan sifat-sifat sosial yang baik.
Namun, akan membentuk suatu pribadi yang buruk bila pengaruh keluarga tidak mendukung. Pribadi yang buruk ini berasal dari pengaruh luar, dimana dengan bermasyarakat atau dengan bersosialisasi yang salah, maka akan membentuk suatu individu yang buruk. Ini adalah pengaruh terbesar dalam pembentukan suatu kepribadiaan individu.
Intinya kehidupan saya dan anda semuanya dimulai dari suatu individu, kemudian saya dan anda semuanya bersosialisasi dengan keluarga, lalu saya dan anda semuanya menginjak sesuatu yang lebih luas lagi dengan bermasyarakat, melihat dunia luar dengan bersosialisasi, sehingga antara individu, keluarga dan masyarakat akan membentuk suatu kebiasaan pada wilayah yang saya dan anda semuanya tempati yang biasa disebut dengan lingkungan.





Referensi :
Harwantiyoko dan Katuuk, Neltje F. (1997). MKDU Ilmu Sosial Dasar. Jakarta : Gunadarma

Rabu, 10 Oktober 2012

Tulisan Penduduk Masyarakat dan Kebudayaan

Rambu Solo, Upacara Adat Tanah Toraja



          Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 600.000 jiwa. Sebagian dari mereka menetap di sebagian dataran Luwu dan Sulwesi Barat.

          Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti “orang yang berdiam di negeri pegunungan”. Sedang orang Luwu menyebutkan To Riajang yang artinya “orang yang berdiam diri di sebelah barat”. Versi lain mengatakan Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang-orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal dengan Tana Toraja.
          Setiap daerah pasti mempunyai tradisi menghormati kematian. Tanah Toraja salah satu daerah di Indonesia yang masih kental adat istiadatnya. Untuk ke Tanah Toraja sendiri kita perlu menghabiskan waktu kurang lebih delapan jam menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum dari Kota Makassar.
          Rambusolo adalah sebuah peninggalan tradisi Tanah Toraja. Rambusolo itu sendiri adalah upacara yang bertujuan untuk menghormati dan menghantarkan arwah orang meninggal yang kita kasihi menuju alam roh ke tempat peristirahatan. Upacara adat ini dilaksanakan dengan meriah, karena memerlukan waktu berhari-hari. Dengan kata lain upacara ini dilakukan sebagai penyempurnaan kematian, karena orang yang meninggal benar-benar dianggap meninggal setelah proses upacara ini selesai. Jika belum, orang yang meninggal tersebut hanya dianggap orang yang sakit atau lemah, sehingga orang meninggal tersebut diperlakukan layaknya orang hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberi makan serta minuman.
Oleh karena itu, upacara ini dianggap sangat penting bagi masyarakat sekitar. Sehingga upacara Rambu Solo menjadi kewajiban, sebagai bentuk pengabdian kepada orang tua yang telah meninggal.
          Jenazah diusung menggunakan duba-duba (keranda khas Toraja). Di depan duba-duba terdapat lamba-lamba (kain merah panjang, dimana kain tersebut ditarik oleh para wanita dalam keluarga itu).
Prosesi pengarakan dilaksanakan setelah ibadah dan makan siang. Barulah keluarga dekat mengusung keranda tersebut. Dimana keranda tersebut hanya diangkat oleh para laki-laki.
Dalam perarakan kita akan melihat orang yang membawa gong sangat besar, lalu diikuti dengan tompi saratu (umbul-umbul), lalu terdapat barisan tedong (kerbau) diikuti dengan lamba-lamba dan sebagai penutup barisan duba-duba.
          Upacara ini akan berlanjut ke tahap selanjutnya yang disebut dengan upacara Rante, dilaksanakan di sebuah lapangan khusus dimana di lapangan tersebut sudah berdiri lantang (rumah sementara yang terbuat dari kayu dan bambu) yang sudah diberi nomor. Lantang itu sendiri berfungsi sebagai tempat tinggal para sanak keluarga yang akan datang nantinya. Karena dalam upacara ini berlangsung mereka akan tinggal bersama, tidak kembali ke rumah masing-masing tetapi menginap di lantang yang telah disediakan oleh keluarga yang sedang berduka.
          Ketika iring-iringan jenazah sampai di Rante jenazah akan diletakkan di Lakkien (menara tempat disemayamkannya jenazah selama prosesi berlangsung). Menara itu merupakan bangunan yang paling tinggi diantara lantang-lantang yang ada di Rante. Lakkien sendiri terbuat dari pohon bambu dengan bentuk rumah adat Toraja.
          Dalam upacara Rante ini kita dapat melihat berbagai ritual, seperti pembungkusan jenazah, pembubuhan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah hingga proses pengusungan jenazah. Yang lebih menarik adalah saat penyembelihan kerbau dengan cara menebas leher kerbau tersebut dengan sekali tebasan. Kerbau yang disembelih adalah jenis kerbau bule (tedong bonga), bisa dikatakan untuk menyembelih kerbau kita harus mengeluarkan biaya yang cukup banyak. Mulai dari puluhan juta hingga ratusan juta per ekornya.
          Selama beberapa hari ke depan diadakan kegiatan penerimaan tamu dan adu kerbau. Penerimaan tamu terus dilaksanakan sampai semua tamu-tamunya berada di tempat yang telah disediakan yaitu Lantang yang berada di Rante. Sore harinya selalu diadakan adu kerbau, hal ini merupakan hiburan yang digemari oleh masyarakat Tana Toraja hingga sampai pada hari penguburan. Baik itu yang dikuburkan di tebing maupun yang di patane’ (kuburan dari kayu berbentuk rumah adat.

Ikuti @baddyisme